SOSIOLOGI
KEHUTANAN MASYARAKAT SEKITAR HUTAN
Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut.,
M.Si
Oleh:
Ikhlasul Al
Musayyin Asfa
161201016
HUT 4A
DEPARTEMEN
KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2018
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masyarakat
dalam istilah bahasa Inggris adalah society yang berasal dari kata Latin socius
yang berarti (kawan). Istilah masyarakat berasal dari kata bahasa Arab syaraka
yang berarti (ikut serta dan berpartisipasi). Masyarakat adalah sekumpulan
manusia yang saling bergaul, dalam istilah ilmiah adalah saling berinteraksi.
Suatu kesatuan manusia dapat mempunyai prasarana melalui warga-warganya dapat
saling berinteraksi. Definisi lain, masyarakat adalah kesatuan hidup manusia
yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat
kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Kontinuitas
merupakan kesatuan masyarakat yang memiliki keempat ciri yaitu: 1) Interaksi
antar warga-warganya, 2). Adat istiadat, 3) Kontinuitas waktu, 4) Rasa
identitas kuat yang mengikat semua warga (Koentjaraningrat, 2009).
Menurut
Sardjono (1998) pengertian masyarakat sekitar hutan lebih ditekankan pada sekelompok
orang yang secara turun temurun bertempat tinggal di dalam/di sekitar hutan dan
kehidupan serta penghidupannya (mutlak) bergantung pada hasil hutan dan/atau
lahan hutan. Sekelompok orang tersebut dalam konteks yang lebih spesifik
(dikaitkan dengan nilai kearifan terhadap sumberdaya hutan yang ada) disebut
sebagai masyarakat tradisionaln dan dari sisi kepentingan yang lebih luas
(pembangunan daerah) lebih sering diistilahkan sebagai masyarakat lokal. Lebih
jauh, kesejahteraan masyarakat desa hutan bukan hanya diukur dari kemajuan
fisik dan ekonomi melainkan juga dari solidaritas sosial warganya yang tinggi
sehingga mampu mengembangkan kerjasama spontan untuk kepentingan bersama.
Masyarakat desa hutan yang sejahtera adalah masyarakat yang mandiri dan mampu
berfungsi memelihara ketertiban sosial dan kelestarian lingkungannya.
Sosiologi
merupakan ilmu yang muncul jauh setelah kehadiran ilmu alam dan ilmu-ilmu
sosial lainnya. Meskipun pertanyaan mengenai perubahan di masyarakat sudah ada
ratusan tahun sebelum masehi, namun sosiologi dalam pengertian sebagai ilmu
yang mempelajari tentang masyarakat baru lahir belasan abad kemudian. Awalnya,
semua pengetahuan manusia jadi satu dalam filsafat, tapi sejalan waktu terjadi
spesialisasi, filsafat membentuk beberapa cabang ilmu seperti astronomi,
fisika, kimia, biologi, dan geologi, sedang filsafat kejiwaan dan filsafat
sosial berkembang menjadi psikologi dan sosiologi. Menurut Pitirim sorokim seorang
ahli sosiologi sosiologi adalah ilmu yang
mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial
(misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah
ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial
dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang
mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja nilai masyarakat
sekitar hutan
2. Bagaimana sistem sosial
masyarakat sekitar hutan
3. Bagaimana interaksi
masyarakat sekitar hutan
4. Bagaimana perilaku masyarakat
sekitar hutan
5. Bagaimana struktur masyarakat
sekitar hutan
6. Bagaimana perubahan sosial
masyarakat sekitar hutan
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui nilai-nilai
masyarakat sekitar hutan
2. Untuk mengetahui sistem
sosial masyarakat sekitar hutan
3. Untuk mengetahui interaksi
masyarakat sekitar hutan
4. Untuk mengetahui perilaku
masyarakat sekitar hutan
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 nilai-nilai
masyarakat sekitar hutan
Nilai-nilai
yang ada pada masyarkat sekitar hutan tidak berbeda dari nilai-nilai masyarakat
yang ada di perkotaan. Karena nilai yang ada pada masyarakat secara alami telah
ada pada diri manusia itu sendiri baik yang telah ada maupun secara kesepakatan
bersama. Adapun nilai-nilai masyrakat sekitar hutan ialah sebagai berikut:
v
Nilai Yang Bersumber Dari Tuhan
Sumber sosial berasal
dari tuhan disebut nilai theonom nilai ini biasanya diketahui melalui ajaran
agama yang ditulis dalam kitab suci. Setiap ajaran agama, mengajarkan nilai
kebaikan yang dapat memberikan pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku
menuju yang benar. Nilai agama diwujudkan dalam bentuk amal perbuatan sebagai
ibadah kepada tuhan.
v
Nilai Yang Bersumber Dari Individu
Dalam kenyataannya,
nilai sosial yang berasal dari individu sering ditularkan dengan cara member
contoh perilaku yang sesuai dengan nilai yang dimaksud. Nilai yang berasal dai
individu disebut nilai otonom.
v
Nilai Yang Bersumber Dari Masyarakat
Masyarakat menepakati
sesuatu hal dianggap baik dan luhru, kemudian menjadikannya sebagai suatu
pedoman dalam bertingkah laku. Nilai yang berasal dari hasil kesepakatan banyak
orang disebut heteronom.
Nilai-nilai yang ada
dan berlaku di masyarakat bermacam-macam. Ditinjau dari penilaiannya, nilai
terdiri dari :
v
Nilai Etika
Nilai etika digunakan
untuk menentukan baik atau buruk suatu perbuatan atau tingkah laku seseorang.
Nilai estetika merupakan nilai untuk manusia sebagai pribadi yang utuh seperti
kejujuran. Nilai ini berkaitan dengan benar dan salah yang dianut oleh golongan
atau masyarakat. Nilai etika sering disebut sebgai nilai moral, akhlak, dan
budi pekerti.
v
Nilai Agama
Nilai agama digunakan
untuk menilai hubungan manusia dengan tuhan, nilai agama sifatnya mutlak dan
berasal dari hidayah yang diberikan tuhan kepada kita. Nilai ini memberikan
petunjuk kepada kita tentang cara menjalani kehidupan, kaitannya dengan
perintah dal larangan-Nya.
v
Nilai Estetika
Nilai estetika
digunakan untuk menilai keindahan, kaitannya dengan bagus atau jelek. Nilai
estetika atau nilai keindahan sering dikaitkan dengan benda, orang, dan
peristiwa yang dapat menyenangkan hati. Nilai estetika juga dikaitkan dengan
karya seni. Walaupun demikian, nilai estetika sebuah seni bergantung pada selera
dan pandangan masing-masing.
v
Nilai Sosial
Nilai sosial digunakan
untuk menentukan kualitas hubungan antar manusia dalam lingkungan masyarakat.
Nilai ini terkait dengan bagaimana sikap dan tindakan kita terhadap orang lain
di lingkungan sekitar.
2.2 sistem sosial masyarakat
sekitar hutan
Seorang
ahli sosiolagi yaitu Talcott Parsons, mendeskripsikan sistem sosial sebagai
berikut: ”Sistem sosial terdiri dari
keragaman aktor individual yang berinteraksi satu sama lain dalam situasi
sosial yang setidaknya berada dalam lingkungan atau ruang fisik, dimana aktor
tersebut memiliki motivasi untuk cenderung mengoptimalkan gratifikasi, dan
relasinya terhadap situasi dan aktor lain berlangsung dalam sebuah sistem yang
melibatkan simbol-simbol yang secara kultural terstruktur”.
Pranata (sistem) sosial adalah
sesuatu yang besifat konsepsional, artinya bahwa eksistensinya hanya dapat di
tangkap dan di pahami melalui sarana pikor dan hanya dapat di bayangkan dalam
imajinasi sebagai suatu konsep atau konstruksi pikor. Menurut Koentjaraningrat
(1979) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pranata (sistem) sosial adalah
sistem yang menjadi wahana yag memungkinkan warga masyarakat itu untuk
berinteraksi menururt pola-pola resmi atau suatu sistem tat kelakuan dan
hubungan yang berpusat pada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi
kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat.
·
Tujuan dan fungsi pranata sosial
Diciptakan
pranta sosial pada dasarnya mempunyai maksud serta tujuan yang secara prinsipil
tidak berbeda dengan norma-norma sosial, karena pranata sosial sebenarnya
memang produk dar norma sosial.
·
Tipe-tipe pranata sosial
1.
tingkat kompleksivitas penyebarannya.
Dengan mendasarkan diri pada tingkat kompleksitas
penyebarannya itu maka pranata sosial di kategorikan sebagai general sosial
yang bersifat universal dengan demikian pranata sosial mempunyai nilai tinggi
dalam kehidupan masyarakat terutama untu kelangsungan hidupya. Dan restricted
sosial mempunyai corak yang khas dalam kehidupan masyarakat dipengaruhi oleh
sifat pranat sosial.
2.
Orientasi nilainya
Berdasrakan kaidah sosial yang mempunyai arti penting
dalam kehidupan masyarakat berdasarkan basic sosial dan subsidiary sosial.
2.3
interaksi masyarakat sekitar hutan
Interaksi sosial adalah hubungan
timbal balik yang saling mempengaruhi. Ada aksi dan ada reaksi. Pelakunya lebih
dari satu. Individu vs individu. Individu vs kelompok. Kelompok vs kelompok.
Dalam interaksi sosial terjadi kontak sosial Kontak sosial dapat berupa kontak
primer dan kontak sekunder. Sedangkan komunikasi sosial dapat secara langsung
maupun tidak langsung. Interaksi sosial secara langsung apabila tanpa melalui
perantara. Menurut Sawitri et al (2011) Interaksi masyarakat etnis Jawa de-ngan
lingkungan biofisik yang ada di se-kitarnya cukup erat, hal ini terlihat dari pembukaan
lahan garapan, intensitas sistem budidaya tanaman, jenis tanaman, dan pola
tanam yang diterapkan di kawasan dan daerah penyangga TNK. Di-samping untuk
mendapatkan lahan garapan, masyarakat juga memanfaatkan jenis pohon yang
ditemukan di kawasan untuk bahan bangunan, kapal dan kayu bakar. Jenis jamur
dan beberapa jenis satwaliar seperi babi hutan dimanfaatkan untuk dikonsumsi.
Babi butan selain dikonsumsi juga digunakan untuk sesajen.
2.4 perilaku masyarakat sekitar
hutan
Perilaku sosial adalah suasana
saling ketergantungan yang merupakan keharusan untuk menjamin keberadaan
manusia. Sebagai bukti bahwa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup sebagai
diri pribadi tidak dapat melakukannya sendiri melainkan memerlukan bantuan dari
orang lain. Ada ikatan saling
ketergantungan diantara satu orang dengan yang lainnya. Artinya
bahwa kelangsungan hidup manusia berlangsung dalam suasana saling
mendukung dalam kebersamaan. Untuk itu manusia dituntut mampu
bekerja sama, saling menghormati, tidak menggangu hak orang lain, toleran dalam
hidup bermasyarakat.
Menurut
Kartasubrata (1986) dalamGiyanto (2006), tekanan dan gangguan dari masyarakat
desa sekitar hutan disebabkan sifat ketergantungan masyarakat desa sekitar hutan
terhadap produk hasil hutan yang sangat tinggi. Tuntutan masyarakat terhadap
hutan tidak hanya sekedar memberikan ruang atau lahan tani,
tetapi hutan dapat memberikan manfaat langsung yang
dapat dirasakan oleh masyarakat terutama sumber perolehan pendapatan dan
kesempatan kerja. Oleh karena itu, masyarakat sekitar hutan tetap mengharapkan
kegiatan dari sumberdaya hutan dapat menjadi salah satu bentuk ekonomi utama
2.5 struktur masyarakat
sekitar hutan
Struktur sosial dapat diartikan sebagai pokok-pokok
atau kaidah-kaidah sosial yang mengikat (norma-norma sosial), lembaga-lembaga
sosial, kelompok sosial dan diantaranya ialah struktur sosial. Struktur sosial
dapat diartikan sebagai perbedaan antara anggota masyarakat berdasarkan status
yang dimilikinya dan status yang diperolehnya, pembedaan/pengelompokan penduduk
dalam suatu masyarakatkedalam kelas-kelas yang bertingkat, kelas tinggi,
menengah dan rendah. Yang membedakanya itu dari sesuatu yang berharga dapat
berupa benda ekonomis dan nonekonomis, pemilik tanah, rumah, mobil, deposito
dan lain-lain, akan tetapi kekuasaan ,
ilmu, pengetahuan, kesalehan dalam beragama, keturunan keluarga terhormat
adalah benda-benda yang sangat terjaga dikalangan masyarakat sekitar daerah
tersebut.
2.6 perubahan sosial masyarakat
sekitar hutan
Perubahan
sosisal adalah segala perubahan yang terjadi dalam lembaga kemasyarakatan dalam
suatu masyarakat,yang mempengaruhi sistem sosialnya. Tekanan pada defenisi
tersebut adalah pada lembaga masyarakat sebagai himpunan kelompok manusia
dimana perubahan mempengaruhi struktur masyarakat lainya, perubahan sosial
menyangkut dua dimensi, menyangkut
hubungan antar individu dan pola hubungan termasuk didalamnya mengenai status,
integrasi, dan peranan, kekuasaan, otoritas dan sebagainya. Perubahan sosial
dapat dilihat dari kurun waktu tertentu, namaun perubahan itu ada yang
berlangsung cepat dan ada pula berlangsung lama.
Pengertian tentang perubahan sosial,
ruang lingkup perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang
materil maupun nonmateril, penekananya adalah pada pengaruh besar unsur-unsur
kebudayaan material terhadap immaterial. Perubahan sosial diartikan sebagai
perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat. Untuk mempelajari perubahan
pada masyarakat, perluh diketahui sebab-sebab yang terjadi sebelumnya di
masyarakat, apabila diteliti, mungkin karena adanya sesuatu mungkin yang dianggap
tidak lagi memuaskan. Bisa jadi juga dipengaruhi faktor luar dan faktor dalam
sekitar lingkungan masyarakat yang menyebabkan terjadinya perubahan di
masyarakakt.
DAFTAR PUSTAKA
http://eprints.uny.ac.id/8538/3/BAB%202%20-%2008401244022.pdf
diakses pada tanggal 01 Oktober 2018 pukul [12:45].
https://id.wikipedia.org/wiki/Definisi_Sosiologi
diakses pada tanggal 01 Oktober 2018 pukul [12:45].
https://ultimatesammy.wordpress.com/2013/03/25/nilai-nilai-di-masyarakat
diakses pada tanggal 01 Oktober 2018 pukul [13.03].
Andri. 2002. Kelola Hutan Bersama Masyarakat. www.Aphi-pusat.net.
01 Oktober 2018.
Sardjono, M.A. 1998. Upaya Pemberdayaan Masyarakat
di Sekitar Kawasan Hutan di Kaltim: Analisis Krisis Implementasi dan Perspektif
ke Depan. Lokakarya Perimbangan Keuangan Pusat-Daerah. Samarinda 21-22 Oktober
1998.
Sawitri S., Suharti S., Karlina E. 2011. Interaksi
Masyarakat Dengan Hutan Dan Lingkungan Sekitarnya Di Kawasan Dan Daerah
Penyangga Taman Nasional Kutai. Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam Vol.
8 No. 2 : 129-142.

