Rabu, 11 April 2018

esdh minyak nilam


PEMANFAATAN MINYAK NILAM (Pogosteron cablin benth) SEBAGAI PARFUM

Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si

Oleh:
Ikhlasul Al Musayyin Asfa
161201016
HUT 4A





PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2018








BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang           
Istilah  ‘ekonomi’  berasal  dari  bahasa  Yunani  asal  kata  ‘oikosnamos’  atau  oikonomia’ yang  artinya  ‘manajemen urusan rumah tangga’, khususnya    penyediaan  dan  administrasi  pendapatan.  (Sastradipoera,  2001:  4).  Namun    sejak perolehan maupun penggunaan kekayaan sumberdaya secara  fundamental  perlu  diadakan    efesiensi  termasuk  pekerja  dan produksinya,  maka  dalam  bahasa  modern  istilah  ‘ekonomi’  tersebut  menunjuk  terhadap  prinsip  usaha  maupun  metode  untuk mencapai tujuan dengan alat=alat sesedikit mungkin. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa definisi tentang ilmu ekonomi
( Word press, 2012).
Sumberdaya hutan (SDH) Indonesia menghasilkan berbagai manfaat yang dapat dirasakan pada tingkatan lokal, nasional, maupun global. Manfaat tersebut terdiri atas manfaat nyata yang terukur (tangible) berupa hasil hutan kayu, hasil hutan non kayu seperti rotan, bambu, damar dan lain-lain, serta manfaat tidak terukur (intangible) berupa manfaat perlindungan lingkungan, keragaman genetik dan lain-lain. Saat ini berbagai manfaat yang dihasilkan tersebut masih dinilai secara rendah sehingga menimbulkan terjadinya eksploitasi SDH yang berlebih. Hal tersebut disebabkan karena masih banyak pihak yang belum memahami nilai dari berbagai manfaat SDH secara komperehensif. Untuk memahami manfaat dari SDH tersebut perlu dilakukan penilaian terhadap semua manfaat yang dihasilkan SDH ini. Penilaian sendiri merupakan upaya untuk menentukan nilai atau manfaat dari suatu barang atau jasa untuk kepentingan manusia(Nurfatriani, 2006).
Minyak nilam adalah minyak atsiri yang diperoleh dari daun nilam (Pogostemon cablin Benth) dengan cara penyulingan atau ekstraksi. Meskipun tidak banyak dikonsumsi di dalam negeri, minyak nilam merupakan salah satu komoditas minyak atsiri andalan Indonesia yang sangat prospektif mengingat industri farmasi, pangan, parfum, sabun, kosmetik membutuhkannya secara sinambung. Kebutuhan minyak nilam dunia rata-rata berkisar antara 1500-2000 ton/tahun dan diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan kenaikan konsumsi terhadap produk komestik, parfum, serta sabun wangi dan bahkan telah berkembang ke produk tembakau dan minyak rambut. Keunggulan minyak nilam adalah mampu membentuk aroma yang harmonis dalam suatu campuran, bahkan minyak nilam sebetulnya telah dapat dikatakan sebagai parfum1 . Dalam industri farmasi minyak nilam dimanfaatkan sebagai obat-obatan yang berfungsi anti inflamantori, anti depresi, divertik, antifungal dan antibakteri (Harimurti, dkk, 2012).
1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa deskripsi dari tanaman minyak nilam ?
2.      Bagaimana minyak nilam  sebagai bahan parfum ?
3.      Apa nilai ekonomi minyak nilam sebagai parfum ?
1.3 Tujuan
1.      Untuk mengetahui deskripsi dari tanaman minyak nilam.
2.      Untuk mengetahui minyak nilam sebagai parfum.
3.      Untuk mengetahui nilai ekonomi minyak nilam sebagai .


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Deskripsi Minyak Nilam
                Menurut beberapa informasi tanaman nilam masuk ke Indonesia pada tahun 1895, pertama kali dibudidayakan di daerah Tapak Tuan (Aceh) yang kemudian menyebar ke daerah pantai timur Sumatera. Sebelum perang dunia II, Indonesia mampu menghasilkan 80 - 90% minyak nilam yang hampir memenuhi kebutuhan dunia. Minyak nilam tersebut sebagian besar (lebih dari 80%) diproduksi dari Daerah Istimewa Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Daerah lain yang menghasilkan minyak nilam adalah Bengkulu, Lampung dan sekarang berkembang pesat di Jawa dan daerah Indonesia Bagian Timur, seperti Kalimantan dan Sulawesi.
Nilam merupakan tumbuhan tropik yang termasuk dalam famili labiatae, klas Angiospermae dan devisi Spermatophyta. Tanaman nilam merupakan jenis tanaman berakar serabut, bentuk daun bervariasi dari bulat hingga lonjong dan batangnya berkayu dengan diameter berkisar antara 10 - 20 mm. Sistem percabangan banyak dan bertingkat mengelilingi batang antara (3 - 5 cabang per tingkat). Setelah tanaman berumur 6 bulan, tingginya dapat mencapai 1 meter dengan radius cabang selebar kurang lebih 60 cm. Di alam bebas, tanaman ini tumbuh secara tidak teratur dan cenderung mengarah ke datangnya sinar matahari, namun di kebun tanaman nilam tumbuhnya tegak ke atas atau merumpun pendek bila diberi penegak bambu.
Klasifikasi minyak nilam
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Spermatophyta
Kelas               : Angiospermae
Ordo                : Lamiales
Famili              : Labiateae
Genus              : Pogostermon
Spesies            : Pogosteron cablin benth
2.2 Potensi minyak nilam  sebagai bahan parfum
Minyak atsiri sebagai bahan baku penambah aroma, parfum dan farmasi memang banyak diminta. Menurut Data Badan Pengembangan Ekspor Nasional pada tahun 2002 rata-rata ekspor minyak atsiri untuk 5 (lima) tahun terakhir mencapai US$ 51,9 juta dengan 77 negara tujuan ekspor. Singapura dan Amerika Serikat adalah penyerap tersebar ekspor minyak atsiri Indonesia masing-masing adalah penyumbang devisa negara US$ 20 per tahun dan US$ 10 juta per tahun. Dari ekspor tersebut minyak nilam mempunyai permintaan sebesar 60 % Nilam termasuk komoditas unggulan nasional dengan luas 9.600 ha dan produksi sebesar 2.100 ton minyak. Berdasarkan data yang diberikan oleh seorang eksportir minyak nilam, kebutuhan minyak nilam dunia berkisar antara 1.100-1.200 ton/ tahun, sedangkan pasokan ini dapat dihasilkan minyak nilam melalui penyulingan daun dan tangkai daun.
Budi daya dan produksi pengolahan minyak nilam di Indonesia umumnya dilakukan petani dan agroindustri penyulingan nilam yang menggunakan teknologi yang masih tradisional dan memiliki keterbatasan di bidang pengetahuan ekstraksi minyak nilam sehingga pengawasan terhadap mutunya sangat kurang diperhatikan. Selain itu, masalah lain yang mereka hadapi adalah masalah permodalan, baik dalam budi daya tanaman nilam maupun pengolahannya. Sebagian besar minyak nilam dihasilkan dari penyulingan yang masih menggunakan ketel penyuling terbuat dari logam besi, sehingga warnanya keruh dan gelap. Keadaan tersebut menyebabkan minyak tersebut sulit diterima dalam perdagangan dan harganya lebih rendah. Menurut Ma’mun (2008) minyak yang keruh dan gelap disebabkan karena kontaminasi dari logam besi dapat dimurnikan dengan cara kompleksometri, yaitu pengikatan logam menggunakan bahan kimia yang disebut bahan pengkelat (chelating agent)
2.3 Apa nilai ekonomi minyak nilam sebagai parfum
            Minyak atsiri merupakan salah satu produksi agro industri yang memiliki prospek cerah untuk dikembangkan. Saat ini terdapat 70 jenis minyak atsiri yang diperdagangkan dipasar dunia dan Indonesia mempunyai 40 jenis tanaman penghasil minyak atsiri, tetapi hanya 14 jenis yang memiliki peranan nyata sebagai komoditas ekspor (Hetik, dkk. 2013). Minyak atsiri yang disebut juga minyak esteris atau minyak terbang banyak diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Minyak atsiri banyak digunakan sebagai bahan pengharum atau pewangi pada makanan, sabun, pasta gigi wangi-wangi dan obat-obatan. Minyak atsiri sebagian besar diambil dari berbagai jenis tanaman penghasil minyak atsiri, salah satunya minyak nilam (pogostemon cablin benth).
Peluang pasar ekspor minyak atsiri masih sangat terbuka lebar. Industri yang memerlukan minyak atsiri sebagai bahan bakunya sangat banyak dan bergam, mulai dari industri parfum sampai usaha aromaterapi. Namun, untuk memenuhi pasar dalam negeri yang terus meningkat, Indonesia melakukan impor yang tergolong cukup besar. Besarnya nilai impor minyak atsiri menunjukkan bahwa potensi pasar dalam negeri masih sangat terbuka. Hingga saat ini, masih banyak bahan-bahan yang mengandung minyak atsiri diperdagangkan dalam bentuk segar dengan harganya yang murah. Melalui teknologi penyulingan, bahan-bahan tersebut dapat diolah menjadi minyak atsiri dan dijual dengan harga yang mahal.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik tahun 2010 yang diolah kembali oleh majalah Trubus, harga daun nilam kering di tingkat petani adalah Rp.4.000,-/kg, dan setelah menjadi minyak harganya menjadi Rp.350.000,-/kg. sementara itu harga buah pala kering adalah Rp.52.500,-/kg dan harga minyaknya menjadi Rp.570.000,-/kg. Kayu manis yang hanya seharga Rp.3.000,-/kg, jika sudah menjadi minyak harganya mencapai Rp.1.000.000,-/kg. Sehingga minyak nilam sangat bagus untuk dikembangkan sebagai salah satu produksi ekspor pertanian Indonesia terbesar.

                                                                          

                                                               

                                                               BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
1.             Minyak nilam Merupakan Hasil hutan bukankayu yang  bernilai komersial tinggi dengan nama latin Pogosteron cablin benth.
2.             Minyak nilam  dapat dibuat menjadi beberapa produk turunan salah satunya ialah sebagai parfum.
3.             Minyak nilam memiliki nilai ekonomi yang tinggi mencapai 2000 ton pertahun. 

DAFTAR PUSTAKA

Nurfatriani F. 2006. Konsep Nilai Ekonomi Total Dan Metode Penilaian Sumberdaya Hutan. 3 (1) : 1-2.
Suprijono., A , Gunawan., Y , Wulan., A.H. 2008. MINYAK NILAM
            (Patchouli alcohol) SEBAGAI           ANTIOKSIDAN DENGAN METODE       DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). STIF. Semarang.
Niken Harimurti , Tatang H Soerawidjaja., N  , Sumangat., D dan Risfaheri. 2012.                                            EKSTRAKSI MINYAK NILAM            (Pogostemon Cablin BENTH) DENGAN                                TEKNIK HIDRODIFUSI PADA          TEKANAN 1 – 3 BAR. ITB., Bandung.
Word press. 2012. Ilmu Ekonomi. Bogor.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#Ayo Hijrah Bersama Baitul Jariyah Bank Muamalat #Ayo Hijrah Bersama Baitul Jariyah Bank Muamalat                 Hijrah saya bera...