PEMANFAATAN MINYAK NILAM (Pogosteron
cablin benth) SEBAGAI PARFUM
Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Oleh:
Ikhlasul Al Musayyin Asfa
161201016
HUT 4A
PROGRAM
STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Istilah ‘ekonomi’
berasal dari bahasa
Yunani asal kata
‘oikosnamos’ atau oikonomia’ yang artinya
‘manajemen urusan rumah tangga’, khususnya penyediaan
dan administrasi pendapatan.
(Sastradipoera, 2001: 4).
Namun sejak perolehan maupun
penggunaan kekayaan sumberdaya secara
fundamental perlu diadakan
efesiensi termasuk pekerja
dan produksinya, maka dalam
bahasa modern istilah
‘ekonomi’ tersebut menunjuk
terhadap prinsip usaha
maupun metode untuk mencapai tujuan dengan alat=alat
sesedikit mungkin. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa definisi tentang ilmu
ekonomi
( Word press, 2012).
( Word press, 2012).
Sumberdaya
hutan (SDH) Indonesia menghasilkan berbagai manfaat yang dapat dirasakan pada tingkatan
lokal, nasional, maupun global. Manfaat tersebut terdiri atas manfaat nyata
yang terukur (tangible) berupa hasil hutan kayu, hasil hutan non kayu seperti
rotan, bambu, damar dan lain-lain, serta manfaat tidak terukur (intangible)
berupa manfaat perlindungan lingkungan, keragaman genetik dan lain-lain. Saat
ini berbagai manfaat yang dihasilkan tersebut masih dinilai secara rendah
sehingga menimbulkan terjadinya eksploitasi SDH yang berlebih. Hal tersebut
disebabkan karena masih banyak pihak yang belum memahami nilai dari berbagai
manfaat SDH secara komperehensif. Untuk memahami manfaat dari SDH tersebut
perlu dilakukan penilaian terhadap semua manfaat yang dihasilkan SDH ini.
Penilaian sendiri merupakan upaya untuk menentukan nilai atau manfaat dari suatu
barang atau jasa untuk kepentingan manusia(Nurfatriani, 2006).
Minyak nilam adalah
minyak atsiri yang diperoleh dari daun nilam (Pogostemon cablin Benth) dengan
cara penyulingan atau ekstraksi. Meskipun tidak banyak dikonsumsi di dalam
negeri, minyak nilam merupakan salah satu komoditas minyak atsiri andalan
Indonesia yang sangat prospektif mengingat industri farmasi, pangan, parfum,
sabun, kosmetik membutuhkannya secara sinambung. Kebutuhan minyak nilam dunia
rata-rata berkisar antara 1500-2000 ton/tahun dan diperkirakan akan terus
meningkat sejalan dengan kenaikan konsumsi terhadap produk komestik, parfum,
serta sabun wangi dan bahkan telah berkembang ke produk tembakau dan minyak
rambut. Keunggulan minyak nilam adalah mampu membentuk aroma yang harmonis
dalam suatu campuran, bahkan minyak nilam sebetulnya telah dapat dikatakan
sebagai parfum1 . Dalam industri farmasi minyak nilam dimanfaatkan sebagai
obat-obatan yang berfungsi anti inflamantori, anti depresi, divertik,
antifungal dan antibakteri (Harimurti, dkk, 2012).
1.2 Rumusan
Masalah
1.
Apa deskripsi
dari tanaman minyak nilam ?
2. Bagaimana minyak nilam sebagai bahan parfum ?
3. Apa nilai ekonomi minyak nilam sebagai parfum ?
1.3 Tujuan
1.
Untuk mengetahui
deskripsi dari tanaman minyak nilam.
2.
Untuk mengetahui
minyak nilam sebagai parfum.
3.
Untuk mengetahui
nilai ekonomi minyak nilam sebagai .
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Deskripsi Minyak Nilam
Menurut
beberapa informasi tanaman nilam masuk ke Indonesia pada tahun 1895, pertama
kali dibudidayakan di daerah Tapak Tuan (Aceh) yang kemudian menyebar ke daerah
pantai timur Sumatera. Sebelum perang dunia II, Indonesia mampu menghasilkan 80
- 90% minyak nilam yang hampir memenuhi kebutuhan dunia. Minyak nilam tersebut
sebagian besar (lebih dari 80%) diproduksi dari Daerah Istimewa Aceh, Sumatera
Utara dan Sumatera Barat. Daerah lain yang menghasilkan minyak nilam adalah
Bengkulu, Lampung dan sekarang berkembang pesat di Jawa dan daerah Indonesia
Bagian Timur, seperti Kalimantan dan Sulawesi.
Nilam merupakan
tumbuhan tropik yang termasuk dalam famili labiatae, klas Angiospermae dan
devisi Spermatophyta. Tanaman nilam merupakan jenis tanaman berakar serabut,
bentuk daun bervariasi dari bulat hingga lonjong dan batangnya berkayu dengan
diameter berkisar antara 10 - 20 mm. Sistem percabangan banyak dan bertingkat
mengelilingi batang antara (3 - 5 cabang per tingkat). Setelah tanaman berumur
6 bulan, tingginya dapat mencapai 1 meter dengan radius cabang selebar kurang
lebih 60 cm. Di alam bebas, tanaman ini tumbuh secara tidak teratur dan
cenderung mengarah ke datangnya sinar matahari, namun di kebun tanaman nilam
tumbuhnya tegak ke atas atau merumpun pendek bila diberi penegak bambu.
Klasifikasi minyak nilam
Kingdom :
Plantae
Divisi :
Spermatophyta
Kelas :
Angiospermae
Ordo :
Lamiales
Famili :
Labiateae
Genus :
Pogostermon
Spesies :
Pogosteron cablin benth
2.2 Potensi minyak nilam sebagai bahan parfum
Minyak atsiri sebagai
bahan baku penambah aroma, parfum dan farmasi memang banyak diminta. Menurut
Data Badan Pengembangan Ekspor Nasional pada tahun 2002 rata-rata ekspor minyak
atsiri untuk 5 (lima) tahun terakhir mencapai US$ 51,9 juta dengan 77 negara tujuan
ekspor. Singapura dan Amerika Serikat adalah penyerap tersebar ekspor minyak
atsiri Indonesia masing-masing adalah penyumbang devisa negara US$ 20 per tahun
dan US$ 10 juta per tahun. Dari ekspor tersebut minyak nilam mempunyai
permintaan sebesar 60 % Nilam termasuk komoditas unggulan nasional dengan luas
9.600 ha dan produksi sebesar 2.100 ton minyak. Berdasarkan data yang diberikan
oleh seorang eksportir minyak nilam, kebutuhan minyak nilam dunia berkisar
antara 1.100-1.200 ton/ tahun, sedangkan pasokan ini dapat dihasilkan minyak
nilam melalui penyulingan daun dan tangkai daun.
Budi daya dan produksi
pengolahan minyak nilam di Indonesia umumnya dilakukan petani dan agroindustri
penyulingan nilam yang menggunakan teknologi yang masih tradisional dan memiliki
keterbatasan di bidang pengetahuan ekstraksi minyak nilam sehingga pengawasan
terhadap mutunya sangat kurang diperhatikan. Selain itu, masalah lain yang
mereka hadapi adalah masalah permodalan, baik dalam budi daya tanaman nilam
maupun pengolahannya. Sebagian besar minyak nilam dihasilkan dari penyulingan
yang masih menggunakan ketel penyuling terbuat dari logam besi, sehingga
warnanya keruh dan gelap. Keadaan tersebut menyebabkan minyak tersebut sulit
diterima dalam perdagangan dan harganya lebih rendah. Menurut Ma’mun (2008)
minyak yang keruh dan gelap disebabkan karena kontaminasi dari logam besi dapat
dimurnikan dengan cara kompleksometri, yaitu pengikatan logam menggunakan bahan
kimia yang disebut bahan pengkelat (chelating agent)
2.3 Apa nilai ekonomi minyak nilam sebagai parfum
Minyak
atsiri merupakan salah satu produksi agro industri yang memiliki prospek cerah
untuk dikembangkan. Saat ini terdapat 70 jenis minyak atsiri yang
diperdagangkan dipasar dunia dan Indonesia mempunyai 40 jenis tanaman penghasil
minyak atsiri, tetapi hanya 14 jenis yang memiliki peranan nyata sebagai
komoditas ekspor (Hetik, dkk. 2013). Minyak atsiri yang disebut juga minyak
esteris atau minyak terbang banyak diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Minyak
atsiri banyak digunakan sebagai bahan pengharum atau pewangi pada makanan,
sabun, pasta gigi wangi-wangi dan obat-obatan. Minyak atsiri sebagian besar
diambil dari berbagai jenis tanaman penghasil minyak atsiri, salah satunya
minyak nilam (pogostemon cablin benth).
Peluang pasar ekspor
minyak atsiri masih sangat terbuka lebar. Industri yang memerlukan minyak
atsiri sebagai bahan bakunya sangat banyak dan bergam, mulai dari industri
parfum sampai usaha aromaterapi. Namun, untuk memenuhi pasar dalam negeri yang
terus meningkat, Indonesia melakukan impor yang tergolong cukup besar. Besarnya
nilai impor minyak atsiri menunjukkan bahwa potensi pasar dalam negeri masih
sangat terbuka. Hingga saat ini, masih banyak bahan-bahan yang mengandung
minyak atsiri diperdagangkan dalam bentuk segar dengan harganya yang murah.
Melalui teknologi penyulingan, bahan-bahan tersebut dapat diolah menjadi minyak
atsiri dan dijual dengan harga yang mahal.
Menurut data dari Badan
Pusat Statistik tahun 2010 yang diolah kembali oleh majalah Trubus, harga daun
nilam kering di tingkat petani adalah Rp.4.000,-/kg, dan setelah menjadi minyak
harganya menjadi Rp.350.000,-/kg. sementara itu harga buah pala kering adalah
Rp.52.500,-/kg dan harga minyaknya menjadi Rp.570.000,-/kg. Kayu manis yang
hanya seharga Rp.3.000,-/kg, jika sudah menjadi minyak harganya mencapai
Rp.1.000.000,-/kg. Sehingga minyak nilam sangat bagus untuk dikembangkan
sebagai salah satu produksi ekspor pertanian Indonesia terbesar.
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
1.
Minyak nilam Merupakan Hasil hutan bukankayu yang bernilai komersial tinggi dengan nama latin Pogosteron cablin benth.
2.
Minyak nilam dapat
dibuat menjadi beberapa produk turunan salah satunya ialah sebagai parfum.
3.
Minyak nilam memiliki nilai ekonomi yang tinggi mencapai 2000
ton pertahun.
Nurfatriani F. 2006. Konsep
Nilai Ekonomi Total Dan Metode Penilaian Sumberdaya Hutan. 3 (1) : 1-2.
Suprijono.,
A , Gunawan., Y , Wulan., A.H. 2008. MINYAK NILAM
(Patchouli alcohol) SEBAGAI ANTIOKSIDAN DENGAN METODE DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). STIF. Semarang.
(Patchouli alcohol) SEBAGAI ANTIOKSIDAN DENGAN METODE DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). STIF. Semarang.
Niken
Harimurti , Tatang H Soerawidjaja., N ,
Sumangat., D dan Risfaheri. 2012.
EKSTRAKSI MINYAK NILAM (Pogostemon Cablin BENTH) DENGAN TEKNIK HIDRODIFUSI PADA TEKANAN 1 – 3 BAR. ITB., Bandung.
Word
press. 2012. Ilmu Ekonomi. Bogor.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar